Violent conflict in multi-ethnic and multi-religious countries remains a major problem in the world today. From the former Soviet Union and Yugoslavia to the Basque region of Spain and Northern Ireland, from Ruwanda to Sudan, from Fiji to Indonesia, numerous bitter, deadly conflicts have been fought along ethnict and religious lines.
After all it has been trough, today numerous institution engaged in the violent conflict campaign the conflict resolution, how to preserve peace and prevent conflict and what causes it.
Couple months ago was held an international workshop by CRISE (Centre For Research On Inequality, Human Security and Ethnicity) in Jakarta. I didn’t exist in the workshop actually, but but a colleagues has given me a book that was distributed to attendees who participated in the workshop and he did.
And the book is on my hand when I was writing this message. numerous findings of the CRIME research programme I need to Share to you all. And we might to discuss about these findings.
Below are the 10 major findings of the CRISE research programme (for particular reason, no explanation posted in this message);
1. The Probability of Conflict is Higher in Areas With Greater Economic And Social HIs
2. Conflict is More Likely Where Political, Economic And Social His Are Consistent. Conflict is Less Likely When a Particular Group Faces Deprivation in One Dimension and Dominates in Another.
3. Inclusive (Or Power-Sharing) Government Tends to Reduce The Likelihood of Conflict.
4. Citizenship Can Be an Important Source of Political and Economic Exclusion.
5. Unequal Cultural Recognition Among Groups is an Additional Motivation for Conflict and Cultural “Events’ Can Trigger Conflict.
6. Perceptions of HIs Affect The Likelihood of Conflict.
7. One Reason High Value Natural Resources Can Lead to Conflict Is They Create High HIs.
8. The Nature of The State Is a Pivotal Factor in Determining Whether Serious Conflict Erupts and Persists.
9. Some HIs Are Very Persistent, Even Lasting for Centuries.
10. International Policies and Statistics are Too Often Blind to His, Although National Policies are Often More Progressive in This Respect.
It has shown that severe HIs can be an important source of conflict, especially where they are consistent across dimension. While economic and social HIs can create fertile ground for the emergence of conflict and cultural status inequalities act to bind groups together, political HIs provide incentives for leaders to mobilize people for rebellion.
Where major HIs exist, abrupt changes in political HIs, or cultural events in which important cultural or religious symbols are attacked, often constitute powerful conflict triggers.
And the evidence in this supports three propositions:
1. Conflict is more likely in settings where there are significant political and/or economic HIs.
2. Political mobilization is especially likely when HIs are consistent; and
3. Cultural recognition or status inequalities are also provocative.
Minggu, 29 Agustus 2010
Kamis, 26 Agustus 2010
OBAMA TETAP DUKUNG PEMBANGUNAN MESJID DEKAT GRAND ZERO
Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mempertahankan keputusannya mendukung pembangunan pusat Islam dan masjid di dekat Ground Zero, New York, Amerika Serikat. Ia berdalih mengizinkan rencana pembangunan pusat Islam dan masjid di dekat lokasi serangan 11 September 2001 itu justru menggambarkan nilai-nilai Amerika.
"Saya tidak sedang mengomentari dan saya tidak akan mengomentari kebijaksanaan pengambilan keputusan soal pembangunan masjid di sana," katanya, Pemimpin AS itu mengatakan, dia secara khusus hanya merespons hak orang untuk beribadah sebagaimana telah diatur para pendiri bangsa AS. "Itulah nilai dasar negara kita," katanya.
"Saya rasa ini sangat penting sekaligus sama rumitnya dengan isu-isu ini bahwa kita harus tetap fokus pada siapa kita sebagai bangsa dan apa sejatinya nilai-nilai kita itu," katanya.
Dukungan Obama pada proyek pembangunan masjid dan pusat Islam itu telah menuai kritik sejumlah pihak. Mereka menuding Presiden Obama tidak sensitif terhadap para keluarga korban serangan 11 September 2001. Di antara kelompok yang mengeritisi dukungan Obama itu adalah 9/11 Families for a Safe & Strong America. Kelompok ini menyebut dukungan Obama tersebut sebagai kabar yang mengejutkan. Dalam pernyataannya, kelompok ini menuduh Presiden Obama telah memasung AS di tempat di mana hati Amerika hancur sembilan tahun lalu dan nilai-nilai kebenarannya dipertontonkan kepada semua orang.
"Kini Presiden ini menyatakan, para korban 9/11 dan keluarganya harus memikul beban lain. Kita mesti diam di tempat terakhir di Amerika di mana 9/11 masih diingat dengan takzim atau dengan risiko disebut sebagai si fanatik agama."
Berbeda dengan sikap kelompok ini, kelompok lain yang juga mewakili keluarga para korban 9/11 justru mendukung rencana pembangunan masjid dan pusat Keislaman di dekat Ground Zero. Kelompok yang menamakan diri September Eleventh Families for Peaceful Tomorrows (Keluarga 9/11 untuk Hari Esok yang Penuh Damai) menyatakan dukungan kuatnya pada upaya pembangunan masjid dan pusat Islam tersebut.
"Kami yakin, menyambut berdirinya pusat (Keislaman) yang bertujuan mendukung terwujudnya toleransi antaragama dan sikap saling menghormati justru sejalan dengan nilai-nilai fundamental Amerika tentang kebebasan dan keadilan untuk semua,"
Dalam serangan kelompok Al Qaida terhadap menara kembar World Trade Center, New York, 11 September 2001, sedikitnya tiga ribu orang tewas. Presiden Obama memberikan dukungannya pada pembangunan masjid dan pusat Islam di dekat lokasi serangan 9/11 New York itu saat menjamu para tokoh muslim Amerika berbuka puasa hari Jumat.
"Sebagai warga negara, dan sebagai presiden, saya meyakini bahwa kaum muslim juga memiliki hak yang sama untuk melaksanakan ibadah agama mereka seperti orang lain di negara ini," kata Obama.
"Itu termasuk hak untuk membangun tempat peribadatan dan pusat komunitas pada properti swasta di Manhattan sesuai dengan undang-undang setempat dan tata cara yang berlaku," ujarnya.
Proyek pembangunan masjid dan pusat Islam itu direncanakan berlokasi hanya beberapa blok dari titik serangan 11 September 2001. Dewan Kotapraja New York sendiri telah menyetujui rencana pembangunan gedung Manhattan menjadi sebuah pusat peribadatan muslim dan tempat bagi pertukaran antarkebudayaan yang disebut Cordoba House itu.
Presiden Obama mengerti rasa sakit dan penderitaan mereka yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Namun, dia meminta rakyat Amerika agar selalu ingat siapa lawan dan apa yang diperjuangkan. "Semua itu disebabkan oleh Al Qaida, bukan oleh Islam..." katanya. Menurut Obama, pada kenyataannya, Al Qaida justru telah membunuh lebih banyak warga muslim daripada para penganut agama lain. Di antara para korban 9/11 ada warga Muslim yang tak berdosa
"Saya tidak sedang mengomentari dan saya tidak akan mengomentari kebijaksanaan pengambilan keputusan soal pembangunan masjid di sana," katanya, Pemimpin AS itu mengatakan, dia secara khusus hanya merespons hak orang untuk beribadah sebagaimana telah diatur para pendiri bangsa AS. "Itulah nilai dasar negara kita," katanya.
"Saya rasa ini sangat penting sekaligus sama rumitnya dengan isu-isu ini bahwa kita harus tetap fokus pada siapa kita sebagai bangsa dan apa sejatinya nilai-nilai kita itu," katanya.
Dukungan Obama pada proyek pembangunan masjid dan pusat Islam itu telah menuai kritik sejumlah pihak. Mereka menuding Presiden Obama tidak sensitif terhadap para keluarga korban serangan 11 September 2001. Di antara kelompok yang mengeritisi dukungan Obama itu adalah 9/11 Families for a Safe & Strong America. Kelompok ini menyebut dukungan Obama tersebut sebagai kabar yang mengejutkan. Dalam pernyataannya, kelompok ini menuduh Presiden Obama telah memasung AS di tempat di mana hati Amerika hancur sembilan tahun lalu dan nilai-nilai kebenarannya dipertontonkan kepada semua orang.
"Kini Presiden ini menyatakan, para korban 9/11 dan keluarganya harus memikul beban lain. Kita mesti diam di tempat terakhir di Amerika di mana 9/11 masih diingat dengan takzim atau dengan risiko disebut sebagai si fanatik agama."
Berbeda dengan sikap kelompok ini, kelompok lain yang juga mewakili keluarga para korban 9/11 justru mendukung rencana pembangunan masjid dan pusat Keislaman di dekat Ground Zero. Kelompok yang menamakan diri September Eleventh Families for Peaceful Tomorrows (Keluarga 9/11 untuk Hari Esok yang Penuh Damai) menyatakan dukungan kuatnya pada upaya pembangunan masjid dan pusat Islam tersebut.
"Kami yakin, menyambut berdirinya pusat (Keislaman) yang bertujuan mendukung terwujudnya toleransi antaragama dan sikap saling menghormati justru sejalan dengan nilai-nilai fundamental Amerika tentang kebebasan dan keadilan untuk semua,"
Dalam serangan kelompok Al Qaida terhadap menara kembar World Trade Center, New York, 11 September 2001, sedikitnya tiga ribu orang tewas. Presiden Obama memberikan dukungannya pada pembangunan masjid dan pusat Islam di dekat lokasi serangan 9/11 New York itu saat menjamu para tokoh muslim Amerika berbuka puasa hari Jumat.
"Sebagai warga negara, dan sebagai presiden, saya meyakini bahwa kaum muslim juga memiliki hak yang sama untuk melaksanakan ibadah agama mereka seperti orang lain di negara ini," kata Obama.
"Itu termasuk hak untuk membangun tempat peribadatan dan pusat komunitas pada properti swasta di Manhattan sesuai dengan undang-undang setempat dan tata cara yang berlaku," ujarnya.
Proyek pembangunan masjid dan pusat Islam itu direncanakan berlokasi hanya beberapa blok dari titik serangan 11 September 2001. Dewan Kotapraja New York sendiri telah menyetujui rencana pembangunan gedung Manhattan menjadi sebuah pusat peribadatan muslim dan tempat bagi pertukaran antarkebudayaan yang disebut Cordoba House itu.
Presiden Obama mengerti rasa sakit dan penderitaan mereka yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Namun, dia meminta rakyat Amerika agar selalu ingat siapa lawan dan apa yang diperjuangkan. "Semua itu disebabkan oleh Al Qaida, bukan oleh Islam..." katanya. Menurut Obama, pada kenyataannya, Al Qaida justru telah membunuh lebih banyak warga muslim daripada para penganut agama lain. Di antara para korban 9/11 ada warga Muslim yang tak berdosa
Sabtu, 21 Agustus 2010
SURRENDER
I was a boy who needs a sunshine to grow
and now a mountain
I was a boy who needs a moonlight to see
now my visions are brighter.
as a wandering dervish pass me by
and something happen in my very eyes.
a giant body and arms I belong to, but couldn't do anything
now a fortune I need as help and Revelation as my guide.
By. Ghazlan "Ghazali" Beck
and now a mountain
I was a boy who needs a moonlight to see
now my visions are brighter.
as a wandering dervish pass me by
and something happen in my very eyes.
a giant body and arms I belong to, but couldn't do anything
now a fortune I need as help and Revelation as my guide.
By. Ghazlan "Ghazali" Beck
HADIAH BAGI KORUPTOR
Dalam pasal 14 dikatakan bahwa seorang presiden berhak untuk memberi amnesty kepada para narapidana melalui pertimbangan Mahkamah Agung (MA). Dan aplikasi dari aturan tersebut seringkali dilakukan pada hari perayaan kemerdekaan Negara ini.
Beberapa hari yang lalu, presiden SBY memberikan amnesty kepada beberapa narapidana yang terlibat kasus korusi, di antara mereka adalah; besan presiden sendiri Aulia Pohan beserta 3 orang anteknya, mantan suami pedangdut Cristina (al-amin Nasution) dan mantan Bupati Kutai Kertanegara Samsuri Aspar yang menggelapkan APBD sebesar 60 Trilyun lebih dan konon menjadi pejabat tingkat II terkaya se-Nusantara.
terkhusus buat Samsuri Aspar presiden mengeluarkan amnesty dengan alasan kesehatan, anehnya MA yang harusnya menjadi pihak yang menjadi filter untuk narapidana yang layak atau tidak menerima amnesty malah mengunjungi Samsuri sehari setelah amnesty tersebut diterimanya. MA dan Menhunkam mengiyakan hasrat presiden untuk member amnesty kepada Samsuri ternyata hanya dengan melihat foto samsuri yang diambil dari RS tempatnya berobat, apakah dengan melihat foto adalah layak untuk mengetahui tingkat penyakit yang diderita seseorang?. Bahkan MA dan Menhunkam pada prinsipnya butuh tim medis untuk mengecek langsung napi yang akan mendapatkan amnesty dengan alasan kesehatan. Parahnya, MA memberi alasan yang aneh kepada masyarakat bahwa Negara akan kehabisan dana untuk membiayai pengobatan napi Samsuri. Lain halnya dengan besan SBY yang baru menjalani masa tahanannya 1,5 tahun Aulia Pohan, tak ayal lagi alasan emosional yang tentunya menjadikan SBY menjatuhkan pilihannya kepada Aulia untuk mendapatkan amnesty dan untuk ini MA dan Menhunkam tak member komentar saat ditanyai oleh wartawan. Dan entah alasan apa lagi yang menjadikan orang no.1 di negri ini memberikan amnesty kepada al-amin Nasution.
Sebuah catatan bahwa hasil penelitian ICW bahwa rata-rata Hakim hanya memvonis para koruptor dengan hukuman masa tahanan 4 sampai 4,5 tahun. Sedangkan menurut mantan MA pada masa Megawati bahwa koruptor yang menggelapkan uang Negara sebanyak 600 juta harusnya dipidana dengan masa tahanan 16 tahun.
Inilah sebuah cerminan dari Negara tercinta ini, Negara yang kita selalu banggakan dan promosikan kepada dunia Internasional.
Sebait lagu kebangsaan nampaknya layak menjadi penutup pesan saya ini “Kulihat Ibu pertiwi, sedang bersusah hati, air matanya berlinang……”
Beberapa hari yang lalu, presiden SBY memberikan amnesty kepada beberapa narapidana yang terlibat kasus korusi, di antara mereka adalah; besan presiden sendiri Aulia Pohan beserta 3 orang anteknya, mantan suami pedangdut Cristina (al-amin Nasution) dan mantan Bupati Kutai Kertanegara Samsuri Aspar yang menggelapkan APBD sebesar 60 Trilyun lebih dan konon menjadi pejabat tingkat II terkaya se-Nusantara.
terkhusus buat Samsuri Aspar presiden mengeluarkan amnesty dengan alasan kesehatan, anehnya MA yang harusnya menjadi pihak yang menjadi filter untuk narapidana yang layak atau tidak menerima amnesty malah mengunjungi Samsuri sehari setelah amnesty tersebut diterimanya. MA dan Menhunkam mengiyakan hasrat presiden untuk member amnesty kepada Samsuri ternyata hanya dengan melihat foto samsuri yang diambil dari RS tempatnya berobat, apakah dengan melihat foto adalah layak untuk mengetahui tingkat penyakit yang diderita seseorang?. Bahkan MA dan Menhunkam pada prinsipnya butuh tim medis untuk mengecek langsung napi yang akan mendapatkan amnesty dengan alasan kesehatan. Parahnya, MA memberi alasan yang aneh kepada masyarakat bahwa Negara akan kehabisan dana untuk membiayai pengobatan napi Samsuri. Lain halnya dengan besan SBY yang baru menjalani masa tahanannya 1,5 tahun Aulia Pohan, tak ayal lagi alasan emosional yang tentunya menjadikan SBY menjatuhkan pilihannya kepada Aulia untuk mendapatkan amnesty dan untuk ini MA dan Menhunkam tak member komentar saat ditanyai oleh wartawan. Dan entah alasan apa lagi yang menjadikan orang no.1 di negri ini memberikan amnesty kepada al-amin Nasution.
Sebuah catatan bahwa hasil penelitian ICW bahwa rata-rata Hakim hanya memvonis para koruptor dengan hukuman masa tahanan 4 sampai 4,5 tahun. Sedangkan menurut mantan MA pada masa Megawati bahwa koruptor yang menggelapkan uang Negara sebanyak 600 juta harusnya dipidana dengan masa tahanan 16 tahun.
Inilah sebuah cerminan dari Negara tercinta ini, Negara yang kita selalu banggakan dan promosikan kepada dunia Internasional.
Sebait lagu kebangsaan nampaknya layak menjadi penutup pesan saya ini “Kulihat Ibu pertiwi, sedang bersusah hati, air matanya berlinang……”
Rabu, 18 Agustus 2010
Art as Flirtation and Surrender
In your light I learn how to love.
In your beauty, how to make poems.
You dance inside my chest,
where no one sees you,
but sometimes I do,
and that sight becomes this art.
In your beauty, how to make poems.
You dance inside my chest,
where no one sees you,
but sometimes I do,
and that sight becomes this art.
Langganan:
Komentar (Atom)