Selasa, 05 Oktober 2010

HALF FULL HALF EMPTY

Setengah isi setengah kosong, apakah makna dari pernyataan ini? Setengah isi setengah kosong (half full half empty) adalah sebuah ungkapan umum, ia digunakan untuk menyatakan hal atau situasi tertentu yang bisa dilihat sebagai suatu hal yang bisa diraih (optimis/setengah isi) atau tidak (pesimis/setengah kosong). Maksud pernyataan tersebut yaitu untuk menunjukan bahwa suatu hal bisa dilihat dari aspek yang berbeda tergantung cara pandang masing-masing orang, hal itu bisa dikatakan sebagai sebuah peluang atau sebaliknya, ia adalah sebuah masalah.

Pernyataan ini digunkan untuk menjelaskan bagaimana orang menginterpretasikan suatu benda atau suatu hal. Persepsi orang selalu berbeda-beda. Ungkapan “half full half empty” bisa dikatakan sebagai sebuah pertanyaan filosofis. is a cup half full or half empty?

Rabu, 22 September 2010

KETIKA BINATANG BUAS DIBANGKITKAN

“Wa idza wuhusyu husyirats”. Dan ketika binatang buas dibangkitkan. (Q.S. 81:5)

Menarik sekali untuk menelaah ayat ini karena ia menyimpan informasi dan pesan spiritual yang dahsyat. Sangat sedikit sebetulnya para ahli tafsir menyempatkan membahas ayat ini secara detail. Namun menelaah kitab-kitab tafsir isyari (tafsir-tafsir simbolik dan sufistik) ketika akan memahami bahwa pesan ayat ini sungguh akan menggetarkan jiwa si mukmin.

Kitab tafsir al-Mizan yang sering membahas ayat secara lafzhi dan zhahiri tidak banyak menguraikan kerumitan makna ayat di atas. Dikatakan rumit sebab kita diminta untuk memahami maksud ayat yang mempunyai arti bahwa binatang-binatang buas kelak akan dibangkitkan bersama manusia. Serigala, harimau, beruang, singa, buaya dan sebagainya benarkah akan dibangkitkan kembali? Untuk apa mereka dibangkitkan? Untuk dihisab layaknya manusia? Sementara mereka bukanlah makhluk yang memiliki akal dan kemampuan untuk memilih seperti manusia, yang menjadi alasan kenapa kelak manusia dihisab.

Secara lahiriah kata Thabathabai, karena ayat ini berada diantara ayat-ayat yang berbicara tentang hari kiamat (pembangkitan) maka makna lahiriyahnya adalah binatang-binatang buas kelak akan dibangkitkan bersama manusia. Namun tidak mudah memang memahaminya karena rincian bagaimana kebangkitannya dan apa-apa yang akan terjadi setelahnya semua itu tidak diungkapkan dalam al-Quran atau hadits yang dipercaya.
Namun Mulla Sadra memberikan peerspektif lain. Filosof dan pencetus gagasan al-Harakah al-Jauhariyah dalam kitab tafsirnya Tafsir al-Quran al-Karim menguraikan makna ayat ini secara simbolik. Katanya ayat ini adalah sebuah ungkapan majazi (kiasan) tentang manusia-manusia yang memiliki semua sifat dan karakter semua binatang buas yang ada di Bumi. Ketika mereka dibangkitkan kembali kelak, mereka akan dibangkitkan persis dengan sifat dan karakter tersebut. Hal ini diperkuat oleh hadits Nabi yang berbunyi , “kelak di hari Kiamat akan ada sebagian orang yang dibangkitkan oleh Allah dalam bentuk rupa yang monyet dan babi sekalipun tampak akan lebih baik darinya”.

Kata Sadra, perhatikan ayat-ayat yang mendeskripsikan tentang hari kiamat. Salah satunya adalah firman Allah yang berkata bahwa “hari itu semua rahasia-rahasiaakan diungkapkan” (yauma tubla as-sarair, 86:9). Semua yang tadinya menjadi rahasia dalam hidup manusia, termasuk karakter aslinya kelak akan diungkapkan apa adanya.
Adalah suatu hal yang lumrah diketahui bahwa dalam hidup ini manusia bertindak melakukan sesuatu karena didorong oleh berbagai macam kekuatan yang ada di dalam dirinya. Terkadang ia didorong oleh kekuatan nafsunya seperti hasrat untuk memuaskan birahi atau tuntutan biologisnya; atau amarah seperti keinginan untuk marah, memukul, membunuh; atau terdorong kuat oleh daya hayal seperti menipu, berbohong dan sejenisnya; atau dorongan rasio yang sehat seperti berfikir, tafakkur, introspeksi dan sebagainya.

Sungguh manusia-manusia yang bergerak semata-mata karena dorongan hal-hal yang tidak baik hingga melakukan kejahatan-kejahatn dan menginjak-injak hak orang lain, membunuh jiwa yang tak berdosa maka tidak ubahnya adalah binatang buas berwajah tampan (wajah manusia.

Dapat kita bayangkan makluk seperti apa itu Hindun, wanita yang melampiaskan dendamnya dengan mengunyah-ngunyah jantung sayyidina Hamzah paman Nabi di perang Uhud. Dapatkah kita bayangkan manusia yang bernama Harmalah yang melesatkan anak panah ke leher Ali al-Asghar putra Husain yang berusia enam bulan saat sang ayah memintakan setetes air bagi bayinya yang kehausan di padang KARBALA?. Dapatkah kita bayangkan manusia seperti apa itu Syimir, Sinan bin Anas, Umar bin Sa’ud, Ibnu Ziyad, Yazid dan sekutunya yang begitu sadis dan kejam di padang KARBALA terhadap Husain dan keluarga beserta 72 sahabatnya? Dapatkah kita bayangkan manusia seperti apa para serdadu/ pemerintah Israel yang membantai ribuan anak-anak dan wanita-wanita tak berdosa di Gaza?.

Di dunia ini memang wajah kebinatangan itu tak Nampak. Namun kelak semua akan Nampak seperti apa adanya: “yauma tubla as-sarair”. Jiwa-jiwa buas yang membedil orang-orang tak berdosa, memancung leher-leher suci para pejuang kebenaran kelak akan bangkit seperti yang Nabi sabdakan “rupa monyet dan babi sekalipun tampak lebih baik darinya”.

Senin, 20 September 2010

Kedap Nurani Umat Muslim

Kebiadaban Zionis Israel atas masyarakat Gaza tidak bisa lagi ditoleransi. Kita melihat betapa Gaza saat ini sendirian. Tak ada penolong bagi mereka. Pemerintah di Negara-negara Arab diam, sepertinya konflik Gaza bukan bukan masalah mereka. Baginya itu urusan politik belaka dan bukan kemanusiaan. Apakah mereka buta dan tuli?
Ulama Wahabi di Arab Saudi bahkan mengeluarkan fatwa haram menyampaikan pesan lewat demonstrasi bagi orang yang simpati terhadap Hamas dan Gaza. Sungguh picik!

Mesir yang berbatasan dengan Gaza pun tak mau membuka perbatasan Rafah. Negeri itu takut kalau hubungan harmonis yang menciptakan rasa aman dan damai dengan Israel bisa berantakan karena membantu rakyat Palestina. Tampaknya mesir lebih memilih membiarkan rakyat Gaza terbantai daripada ketenteraman pemerintahan Husni Mubarak terusik. Mata dan telinga mereka lebih senang mendengar dan menyaksikan penari perut dengan alunan musik gambus R ‘n B.

Alhasil, Israel melenggang tanpa halangan. Kebrutalan Israel -yang melebihi Holocaust- tidak ada yang berani menghalang. Seorang anggota parlemen Inggris yang juga keturunan Yahudi mengatakan kebiadaban Israel mirip dengan kebengisan tentara Nazi. Ia mengisahkan tentang kematian neneknya ketika invasi tentara Jerman ke Inggris. Saat itu kepala neneknya tertembus peluru sedang saat itu sang nenek terkulai lemas di atas pembaringan karena sakit.

Obama diam seribu bahasa. Amerika sepertinya tidak berubah dan jangan harap “si Setan Besar” akan berubah. Tapi kita cukup berbangga dengan pemerintah dan rakyat Indonesia. Ketika tragedi Gaza meledak solidaritas rakyat Indonesia Memuncak. Posko-posko bantuan kemanusiaan krisis Gaza menjamur bak cendawan di musim hujan, demo anti Zionis berhamburan dari timur Nusantara sampai ke barat. Dan bantuan segera dikirim beserta doa dan dukungan. Walau harus menempuh beberapa rintangan seperti tragedi Mavi Marmara dan lain-lain bantuan ini akhirnya bisa diterima rakyat Gaza. Mesir memperbolehkan bantuan masuk melalui Rafah.

Tentu saja bukan karena jumlah bantuan yang dikirim tapi perasaan senasib dan sependeritaanlah yang sesungguhnya membesarkan hati. Hanya rasa kemanusiaanlah yang menggerakkan hati kita menolong. Labbaika ya Gaza..

Jumat, 17 September 2010

PEACE; Utophia or Reality

PEACE; Utopia or Reality
each elements of society (individual, community, class) crave a peace. "Peace" is an absolute requirement for every human being who want a sense of security. without it, no person or group of people, neither of the smallest unit in society nor in state could meet social needs, political and economic as well. on the one hand, there are parties who take advantage of an absence of peaceful situation, because they are very concerned about the "availability" of protracted conflict, and the majority form of economic or political interests. on the other hand, the concept of peace also appeared contextually when it is placed in certain situations. intended by a situation of peace in this paper is not just in a negative sense, relatively without turbulence, or without conflict. but more than that, as one purpose of handling conflict. and by then it will raise several questions: (1) why does a situation of peace is necessarily?, (2) whether the peace is a precondition for a sense of security, which is a fundamental right citizen has been fullfilled?; (3) how to achieve a lasting peaceful situation, what are the supporting factors and inhibitors?; (4) how the responsibility of the state, as a stakeholders within a country?
Paul Wehr in “The Development of Conflict knowledge” says; in the period throughout the 19th-20th century, human awareness of how a conflict arise -in addition of efforts to handle a conflict with constructive ways- has been increasing at the level of abstract and formal, education in schools, seminars and training forums. In Indonesia, study of conflict research, identification, formulate proposals or recommendations was held by universities, local and international institutions of research, non-governmental organizations and also from government itself.
"the action" that posted above by Wehr described not merely as human reflection of curiosity to the problems of conflict and how to achieve peace. Furthermore, This case illustrates the process of finding a solution over the increasing scale and cost of human conflict. situation of chaos of political, economy, social, cultural, which took place in Indonesia since 1997, even those that already had the potential latent in much earlier periods is the stage of clash of interests among individuals and groups within countries. cases of violent conflict which claimed the loss of human life, property, and the psychological effects such as trauma has proven that. Thus, the statement of Wehr about "the processing of a solution finding" above is appropriate when it is concerned with the growing awareness of the efforts to resolve violent conflict in Indonesia that is conducted by actors of non-governmental organizations. moreover, the efforts to handle conflict issues actually depends on the parties that get involved a conflict, the victims of the conflict itself, out of the circles which have often given the attribute of "civil society" are a non-governmental organizations and students.
an important question arising in connection with the "involvement of the conflicting parties in the conflict resolution scheme." Here an assumption; if viewed from the side of the trigger or the perpetrators of conflict, conflict resolution through peace agreements, facilitated by dialogue, will not mean much when the actors involved in conflict situations is not included to build a sustainable peace (sustainable peace building). However, the shceme will remain a new dilemma. How do we create a peace agenda through an agreement when the government itself does not do justice to the parties that are considered guilty? While negotiations require an equality for both sides who want to negotiate. in the context of political transition, it is not as easy as we thought, considering that the civil society itself is divided, while democratization is still ongoing.
In Poso district, as an example is shown by an analysis of the roots of conflict and the prospects of peace in Poso. peace zone created by community groups in the conflict and facilitated by a group of advocates of peace, with the intention of restoring human dignity in the region of conflict, on the one hand it is not followed by a worthwhile effort by the state (local and central government and security forces and a handful of local political elites), and on the other hand, a concept initiated by the non-governmental also did not continued with greater opportunities for cooperation. giving rise to the impression that the effort is dominated by the conflict reducer “Malino Agreement II” which was only temporary and do not take root upon society’s bossom. Promotion of Malino Agreement II as the only starting point for peace in Poso appears over the paradigm used by local communities, and identification of the root of conflict are narrowed by political factors (an election of Regents); ideological factors (the existence of jihadist groups/Mujahidin Poso and the opposition); and social factors (a dense population).

What Might Be Done?
There is an important point when talking about "peace", that is concerning the perception and interpretation of who is dominant in it. Referring to the problematic of concept of reconciliation in the case of Tanjung Priok Tragedy, then the same thing may be brought in the concept of peace to end the violent conflict case itself. Is not the military also put up banners "Peace Is Beautiful" at strategic locations at the corners of the city and in rural outposts? A peace agreement, in the conflict that occurred at any level, whether intra-state (internal conflict) and inter-state (interstate conflict), it should contain elements of "peace building", including law enforcement efforts and the realization of mutual-trust (confidence building measures) among the parties in conflict. However, when the legal instrument is no longer trusted by the public, during security is one of the citizens right, then how could it be to be achieved? State does not work properly in providing safe situation. Where is the function of stakeholders? While the violence finally reproduced by groups of civil society, is there no future for the word "peace"?
In this case, it takes effort to retrace the steps that have been made by various parties to achieve peace, especially in the context of fulfilling the rights of citizens in safe feeling, and explores how to create a mechanism of conflict handling, and to push peace toward in long-term in Indonesia. Do we have the alternative peace? which meant not in the sense of "negative peace" in the form of mere cessation of violence, but "positive peace" which accompanied the direct participation of the community to make it happen? Conflict management approach is most appropriate when looking at the trend of conflict, especially if you see the impact by it?
Long-term view of the conflict at least dependent on two variables: the balance of power, and awareness of the existence of interest groups and their needs to the conflict, and approaches of handling a conflict as has been mentioned earlier. The process of conflict resolution and efforts to achieve peace can be understood in that context. In this case, the role of peace builders in particular are expected to emerge from the civil society, or individuals who understand the issues, and able to analyze any occurred conflict clearly, by determine every factor that causes the conflict. We can put ourselves as the party providing analysis / consultation, direct advocacy, or involve ourselves as a "third party" in the mediation scheme and/or negotiations, provided that the conditions of a balanced relationship between the conflicting parties.
In conclusion the main purpose and the peace building process is to restructure the damaged social relations, and, furthermore, produces a fair mechanism for conflict resolution and peace, taking into account the political aspects, economic, social and cultural includes the locus of the conflict. From this point of view, forward and unlock the potential of latent conflict is not a "provocation" or "add" the conflict, but rather is part of a broader peace process.

Jumat, 10 September 2010

Lebaran adalah sebuah TRADISI

Lebaran adalah sebuah TRADISI yang dilakukan sebagian umat muslim dalam merayakan hari kemenangan/besar Islam seperti Ied Fitri/Adha, tradisi yang sudah diwariskan turun temurun oleh orang-orang sebelum kita, tradisi yang jika tanpanya 80% ummat yang merayakannya tidak merasakan apa-apa dari Ibadah puasa yang dijalankan sebulan penuh sebelumnya, suatu tradisi yang pada sebagian kecil ummat dianggap sebagai suatu bentuk pemborosan namun tidak pada sebagian besar lain. adalah hal yang sangat masuk akal jika kelompok kecil ini mengatakan demikian, mengingat kebiasaan atau tradisi ini erat hubungannya dengan mengeluarkan uang yang lumayan untuk membuat perayaan ini terasa meriah. selain itu kebiasaan ini akan menimbulkan kesenjangan sosial kian nampak pada ummat yang merayakannya (inequality between poor and rich), sadar atau tidak, inilah realitanya.

sedangkan mereka yang mempunyai kelebihan materi menganggap inilah bentuk perayaan kami, "iedain" atau 2 hari ied adalah tamu agung tahunan yang tentunya kita menemuinya hanya sekali dalam setahun, maka tidak salah jika dalam perayaannya kami mengeluarkan uang yang tidak sedikit.

Lantas apa yang membedakan bentuk perayaan tersebut (tradisi lebaran) dengan Wedding Anniversary atau Birthday Party? bukankah ia juga dilakukan setahun sekali? bukankah dia juga tamu agung? haruskah dalam merayakan suatu kemenangan atau annual event harus dengan pesta pora? atau dengan cara yang berlebih-lebihan?.

saya sependapat dengan seorang Norman Rockwell yang mengatakan "I'm not going to be caught around here for any fool celebration. To hell with birthdays!"

ada sebuah asa yang ingin kita raih dari hari Besar ini, tapi tidak dengan cara yang berlebihan. ".... wa laa tusrifuu!! inna Allaha laa yuhibbu al-musrifiin".

Jumat, 03 September 2010

TANDA-TANDA MALAM LAILATUL QADR

Diantara kita mungkin pernah mendengar tanda-tanda malam lailatul qadar yang telah tersebar di masyarakat luas. Sebagian kaum muslimin awam memiliki beragam khurofat dan keyakinan bathil seputar tanda-tanda lailatul qadar, diantaranya: pohon sujud, bangunan-bangunan tidur, air tawar berubah asin, anjing-anjing tidak menggonggong, dan beberapa tanda yang jelas bathil dan rusak. Maka dalam masalah ini keyakinan tersebut tidak boleh diyakini kecuali berdasarkan atas dalil, sedangkan tanda-tanda di atas sudah jelas kebathilannya karena tidak adanya dalil baik dari al-Quran ataupun hadist yang mendukungnya. Lalu bagaimanakah tanda-tanda yang benar berkenaan dengan malam yang mulia ini ?
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengabarkan kita di beberapa sabda beliau tentang tanda-tandanya, yaitu:

1. Udara dan suasana pagi yang tenang
Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist hasan)

2. Cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya
Dari Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR Muslim)

3. Terkadang terbawa dalam mimpi
Seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi radliyallahu’anhum

4. Bulan nampak separuh bulatan
Abu Hurairoh radliyallahu’anhu pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata,
“Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.” (HR. Muslim)

5. Malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)
Sebagaimana sebuah hadits, dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:
“Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan)

6. Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lezatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak seperti malam-malam lainnya.

Wallahua’lam

Minggu, 29 Agustus 2010

10 MAJOR FINDINGS OF THE CRISE RESEARCH PROGRAMME

Violent conflict in multi-ethnic and multi-religious countries remains a major problem in the world today. From the former Soviet Union and Yugoslavia to the Basque region of Spain and Northern Ireland, from Ruwanda to Sudan, from Fiji to Indonesia, numerous bitter, deadly conflicts have been fought along ethnict and religious lines.
After all it has been trough, today numerous institution engaged in the violent conflict campaign the conflict resolution, how to preserve peace and prevent conflict and what causes it.

Couple months ago was held an international workshop by CRISE (Centre For Research On Inequality, Human Security and Ethnicity) in Jakarta. I didn’t exist in the workshop actually, but but a colleagues has given me a book that was distributed to attendees who participated in the workshop and he did.

And the book is on my hand when I was writing this message. numerous findings of the CRIME research programme I need to Share to you all. And we might to discuss about these findings.

Below are the 10 major findings of the CRISE research programme (for particular reason, no explanation posted in this message);

1. The Probability of Conflict is Higher in Areas With Greater Economic And Social HIs

2. Conflict is More Likely Where Political, Economic And Social His Are Consistent. Conflict is Less Likely When a Particular Group Faces Deprivation in One Dimension and Dominates in Another.

3. Inclusive (Or Power-Sharing) Government Tends to Reduce The Likelihood of Conflict.

4. Citizenship Can Be an Important Source of Political and Economic Exclusion.

5. Unequal Cultural Recognition Among Groups is an Additional Motivation for Conflict and Cultural “Events’ Can Trigger Conflict.

6. Perceptions of HIs Affect The Likelihood of Conflict.

7. One Reason High Value Natural Resources Can Lead to Conflict Is They Create High HIs.

8. The Nature of The State Is a Pivotal Factor in Determining Whether Serious Conflict Erupts and Persists.

9. Some HIs Are Very Persistent, Even Lasting for Centuries.

10. International Policies and Statistics are Too Often Blind to His, Although National Policies are Often More Progressive in This Respect.

It has shown that severe HIs can be an important source of conflict, especially where they are consistent across dimension. While economic and social HIs can create fertile ground for the emergence of conflict and cultural status inequalities act to bind groups together, political HIs provide incentives for leaders to mobilize people for rebellion.

Where major HIs exist, abrupt changes in political HIs, or cultural events in which important cultural or religious symbols are attacked, often constitute powerful conflict triggers.

And the evidence in this supports three propositions:
1. Conflict is more likely in settings where there are significant political and/or economic HIs.
2. Political mobilization is especially likely when HIs are consistent; and
3. Cultural recognition or status inequalities are also provocative.

Kamis, 26 Agustus 2010

OBAMA TETAP DUKUNG PEMBANGUNAN MESJID DEKAT GRAND ZERO

Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mempertahankan keputusannya mendukung pembangunan pusat Islam dan masjid di dekat Ground Zero, New York, Amerika Serikat. Ia berdalih mengizinkan rencana pembangunan pusat Islam dan masjid di dekat lokasi serangan 11 September 2001 itu justru menggambarkan nilai-nilai Amerika.

"Saya tidak sedang mengomentari dan saya tidak akan mengomentari kebijaksanaan pengambilan keputusan soal pembangunan masjid di sana," katanya, Pemimpin AS itu mengatakan, dia secara khusus hanya merespons hak orang untuk beribadah sebagaimana telah diatur para pendiri bangsa AS. "Itulah nilai dasar negara kita," katanya.
"Saya rasa ini sangat penting sekaligus sama rumitnya dengan isu-isu ini bahwa kita harus tetap fokus pada siapa kita sebagai bangsa dan apa sejatinya nilai-nilai kita itu," katanya.

Dukungan Obama pada proyek pembangunan masjid dan pusat Islam itu telah menuai kritik sejumlah pihak. Mereka menuding Presiden Obama tidak sensitif terhadap para keluarga korban serangan 11 September 2001. Di antara kelompok yang mengeritisi dukungan Obama itu adalah 9/11 Families for a Safe & Strong America. Kelompok ini menyebut dukungan Obama tersebut sebagai kabar yang mengejutkan. Dalam pernyataannya, kelompok ini menuduh Presiden Obama telah memasung AS di tempat di mana hati Amerika hancur sembilan tahun lalu dan nilai-nilai kebenarannya dipertontonkan kepada semua orang.

"Kini Presiden ini menyatakan, para korban 9/11 dan keluarganya harus memikul beban lain. Kita mesti diam di tempat terakhir di Amerika di mana 9/11 masih diingat dengan takzim atau dengan risiko disebut sebagai si fanatik agama."

Berbeda dengan sikap kelompok ini, kelompok lain yang juga mewakili keluarga para korban 9/11 justru mendukung rencana pembangunan masjid dan pusat Keislaman di dekat Ground Zero. Kelompok yang menamakan diri September Eleventh Families for Peaceful Tomorrows (Keluarga 9/11 untuk Hari Esok yang Penuh Damai) menyatakan dukungan kuatnya pada upaya pembangunan masjid dan pusat Islam tersebut.

"Kami yakin, menyambut berdirinya pusat (Keislaman) yang bertujuan mendukung terwujudnya toleransi antaragama dan sikap saling menghormati justru sejalan dengan nilai-nilai fundamental Amerika tentang kebebasan dan keadilan untuk semua,"
Dalam serangan kelompok Al Qaida terhadap menara kembar World Trade Center, New York, 11 September 2001, sedikitnya tiga ribu orang tewas. Presiden Obama memberikan dukungannya pada pembangunan masjid dan pusat Islam di dekat lokasi serangan 9/11 New York itu saat menjamu para tokoh muslim Amerika berbuka puasa hari Jumat.

"Sebagai warga negara, dan sebagai presiden, saya meyakini bahwa kaum muslim juga memiliki hak yang sama untuk melaksanakan ibadah agama mereka seperti orang lain di negara ini," kata Obama.

"Itu termasuk hak untuk membangun tempat peribadatan dan pusat komunitas pada properti swasta di Manhattan sesuai dengan undang-undang setempat dan tata cara yang berlaku," ujarnya.

Proyek pembangunan masjid dan pusat Islam itu direncanakan berlokasi hanya beberapa blok dari titik serangan 11 September 2001. Dewan Kotapraja New York sendiri telah menyetujui rencana pembangunan gedung Manhattan menjadi sebuah pusat peribadatan muslim dan tempat bagi pertukaran antarkebudayaan yang disebut Cordoba House itu.

Presiden Obama mengerti rasa sakit dan penderitaan mereka yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Namun, dia meminta rakyat Amerika agar selalu ingat siapa lawan dan apa yang diperjuangkan. "Semua itu disebabkan oleh Al Qaida, bukan oleh Islam..." katanya. Menurut Obama, pada kenyataannya, Al Qaida justru telah membunuh lebih banyak warga muslim daripada para penganut agama lain. Di antara para korban 9/11 ada warga Muslim yang tak berdosa

Sabtu, 21 Agustus 2010

SURRENDER

I was a boy who needs a sunshine to grow

and now a mountain

I was a boy who needs a moonlight to see

now my visions are brighter.



as a wandering dervish pass me by

and something happen in my very eyes.



a giant body and arms I belong to, but couldn't do anything

now a fortune I need as help and Revelation as my guide.


By. Ghazlan "Ghazali" Beck

HADIAH BAGI KORUPTOR

Dalam pasal 14 dikatakan bahwa seorang presiden berhak untuk memberi amnesty kepada para narapidana melalui pertimbangan Mahkamah Agung (MA). Dan aplikasi dari aturan tersebut seringkali dilakukan pada hari perayaan kemerdekaan Negara ini.
Beberapa hari yang lalu, presiden SBY memberikan amnesty kepada beberapa narapidana yang terlibat kasus korusi, di antara mereka adalah; besan presiden sendiri Aulia Pohan beserta 3 orang anteknya, mantan suami pedangdut Cristina (al-amin Nasution) dan mantan Bupati Kutai Kertanegara Samsuri Aspar yang menggelapkan APBD sebesar 60 Trilyun lebih dan konon menjadi pejabat tingkat II terkaya se-Nusantara.
terkhusus buat Samsuri Aspar presiden mengeluarkan amnesty dengan alasan kesehatan, anehnya MA yang harusnya menjadi pihak yang menjadi filter untuk narapidana yang layak atau tidak menerima amnesty malah mengunjungi Samsuri sehari setelah amnesty tersebut diterimanya. MA dan Menhunkam mengiyakan hasrat presiden untuk member amnesty kepada Samsuri ternyata hanya dengan melihat foto samsuri yang diambil dari RS tempatnya berobat, apakah dengan melihat foto adalah layak untuk mengetahui tingkat penyakit yang diderita seseorang?. Bahkan MA dan Menhunkam pada prinsipnya butuh tim medis untuk mengecek langsung napi yang akan mendapatkan amnesty dengan alasan kesehatan. Parahnya, MA memberi alasan yang aneh kepada masyarakat bahwa Negara akan kehabisan dana untuk membiayai pengobatan napi Samsuri. Lain halnya dengan besan SBY yang baru menjalani masa tahanannya 1,5 tahun Aulia Pohan, tak ayal lagi alasan emosional yang tentunya menjadikan SBY menjatuhkan pilihannya kepada Aulia untuk mendapatkan amnesty dan untuk ini MA dan Menhunkam tak member komentar saat ditanyai oleh wartawan. Dan entah alasan apa lagi yang menjadikan orang no.1 di negri ini memberikan amnesty kepada al-amin Nasution.
Sebuah catatan bahwa hasil penelitian ICW bahwa rata-rata Hakim hanya memvonis para koruptor dengan hukuman masa tahanan 4 sampai 4,5 tahun. Sedangkan menurut mantan MA pada masa Megawati bahwa koruptor yang menggelapkan uang Negara sebanyak 600 juta harusnya dipidana dengan masa tahanan 16 tahun.

Inilah sebuah cerminan dari Negara tercinta ini, Negara yang kita selalu banggakan dan promosikan kepada dunia Internasional.
Sebait lagu kebangsaan nampaknya layak menjadi penutup pesan saya ini “Kulihat Ibu pertiwi, sedang bersusah hati, air matanya berlinang……”

Rabu, 18 Agustus 2010

Art as Flirtation and Surrender

In your light I learn how to love.

In your beauty, how to make poems.

You dance inside my chest,

where no one sees you,

but sometimes I do,

and that sight becomes this art.

Kamis, 08 Juli 2010

Jawarah Baru, Titel Baru


Sudah hampir sebulan perhelatan Piala Dunia digelar di Afsel dan tidak sedikit prediksi-prediksi yang terpatahkan dengan hasil yang disajikan dalam even akbar tersebut. Mulai dari Juara bertahan Italia yang harus pulang lebih awal setelah tak lolos dari fase penyisihan grup, kekisruhan di kubu timnas prancis yang mengakibatkan mereka mengulangi kegagalaan yang sama di Piala Eropa 2 tahun silam, sampai pada 2 negara kandidat juara Inggris dan Argentina yang harus menelan pil pahit setelah dipecundangi oleh tim Panzer di fase knockout 16 besar dan Quarter final yang mengacaukan bursa kandidat kampiun WC kali ini di sebuah rumah taruhan di Inggris. Tidak berhenti disitu saja, setelah meraih hasil gemilang tersebut banyak yang menjagokan tim yang di tunggangi oleh Philip Lahm cs. Tersebut bakal yang menjadi pemenang di akhir even, prediksi tersebutpun lagi-lagi dipatahkan oleh permainan cantik tim besutan Vicente DelBosque di semi final yang digelar dini hari tadi setelah kapten tim Barcelona dan pemain belakang Tim Matador Carles Puyol mencetak satu-satunya gol di pertandingan tersebut. setelah Tim la Furia Roja memastikan diri masuk ke grand final, Negara yang menganut total football telah menunggu sehari sebelumnya setelah menumbangkan Uruguay dgn skor 3-2 dan yang lebih fenomenal adalah tim asuhan Bert van Marwijt tersebut terlebih dahulu menggilas kandidat peraih WC 2010 yang lain yaitu Brazil. Kini hanya ada 2 tim yang tersisa yang tentunya akan membuktikan bahwa masing-masing mereka yang terbaik di dunia saat ini, keduanya adalah tim asal benua Biru Belanda dan Spanyol (all European Final), lagi-lagi hal ini menyudahi tradisi peraih WC yang selalu diraih oleh tim confederasi dan eropa secara bergantianselama 48 tahun sejak tahun 1962 yang saat itu Argentina (Konfederasi) yang menjadi pemenang kompetisi hingga Italia (Eropa) di tahun 2006 silam.

Nah, bagaimana dengan anda?? Tentunya anda semua sudah mengulas habis peta kekuatan 2 tim peserta grand Final WC 2010 yang akan digelar tgl 12 juli nanti. Dan tim manakah yang anda jagokan untuk meraih title pertama mereka?? Tentu sulit untuk memilih, mengingat keduanya adalah tim yang punya permainan kolektif dan strategi menyerang yang sama baiknya. On Paper this should be a draw but games aren’t won on paper.

Kamis, 28 Januari 2010

Belajar Berkomunikasi Dengan Baik


Suatu ketika setelah selesai menaklukan suatu wilayah di belahan Eropa Jengis Khan yang setiap saat didampingi oleh burung elang kesayangannya pergi ke sebuah anak sungai di dekat medan pertempuran yang dipenuhi bangkai-bangkai manusia yang mati untuk mengisi kantung kulitnya dengan air untuk diminum. Sesaat setelah mengisi kantung kulit tersebut tiba-tiba burung elangnya menerjang tangan Jengis Khan hingga kantung kulit tersebut jatuh dan air di dalamnya semua tumpah, karena Jengis Khan yang masih penuh dengan perasaan senang dan bangga karena baru saja selesai menaklukan sebuah Negara tak begitu terganggu dengan perlakuan burung kesayangannya, namun amarahnyapun memuncak setelah kejadian itu terlulang lagi sampai tiga kali, dengan cepat Jengis khan langsung menghunus pedangnya dan menebas kepala burung elang kesayangannya tersebut hingga burung itu mati. Namun betapapun perlakuan burung elang itu, Jengis Khan merasa kehilangan karena burung itu sudah setia menemaninya bertahun-tahun dalam perjalanannya menaklukan hamper lebih dari setengah dataran di bumi ini.
Dan setelah Jengis Khan selesai mengisi kantung kulitnya dengan air, Jengis Khan pun beranjak berjalan menuju pasukannya. Namun tak disangka ternyata anak sungai tempat ia mengisi kantung kulitnya dengan air itu dipenuhi dengan bangkai-bangkai manusia korban perang yang tentunya airnya sangat tidak layak dikonsumsi dan bahkan sangat berbahaya untuknya.
Sesaat kemudian dia jatuh berlutut penuh penyesalan karena baru disadarinya bahwa perlakuan burung elang kesayangannya yang berkali-kali menjatuhkan kantung kulitnya bermaksud memberitahukan bahwa air yang diisinya dalam kantung kulit tersebut sangat berbahaya bagi dirinya.
Namun inilah kesalah pahaman dalam berinteraksi antara sesame, kesalahan pengertian dalam berkomunikasi, yang tentunya sangat berakibat fatal terhadap sesama dan tidak menutup kemungkinan akan berakibat pada jatuhnya korban jiwa seperti kasus Jengis Khan dan burung elang kesayangannya. Komunikasi yang baik akan jauh bermanfaat dan berbuah baik pula.

Sabtu, 23 Januari 2010

World Cup (Year To Year)


Berbicara mengenai bola kaki (football) memang tidak ada habisnya, dari anak sampai orangtua, dari utara sampai selatan semua tahu dan mengerti tentang bola kaki. Sehingga menjadi hal yang sangat wajar ketika semua orang lebih mengenal Lionel Messi dibandingkan Prof. Budiono sebagai wakil presiden Indonesia saat ini.
Terlebih lagi beberapa Bulan ke depan akan digelar even sepakbola terakbar sejagat World Cup 2010 di Afrika selatan, even yang menjadi dambaan setiap pemain professional di dunia untuk mempertontonkan kehebatan mereka terutamanya mengangkat prestise Negara masing-masing. Tentunya kita sebagai penggila sepakbola mempunyai tim yang menjadi kebanggaan yang diharapkan nantinya akan menjadi yang terbaik di even empat tahunan ini (seharusnya Negara tercinta). Dan sesungguhnya ini sangat menarik sekali melihat fenomena-fenomena yang terjadi dalam setiap perayaan WC, dari pencetakan bakat-bakat muda, barometer menjadikan seorang pemain bakal menjadi pemain terbaik dunia (fottballer of the year), seteru pemain-pemain setim dalam liga dunia akibat membela Negara seperti yang terjadi dengan CR7 (Portugal/Manchester United) dan Wayne Rooney (Inggris/Menchester United) saat membela Negara masing-masing. Namun ada satu hal yang menurut saya sangat fenomenal dalam perayaan even empat tahunan ini, yaitu tradisi 2 benua penguasa sepakbola (Eropa dan Amerika Latin) dalam merebut gelar sebagai Tim terbaik dalam even empat tahunan tersebut secara bergantian. Terhitung sejak pelaksanaan WC ke-7 tahun 1962 di Chili Brazil berhasil menjadi yang terbaik setelah menyingkirkan Cekoslovakia dengan skor 3-1, kemudian pada WC selanjutnya Inggris yang saat itu menjadi tuan rumah berhasil menjadi yang terbaik dengan menumbangkan Jerman Barat dengan skor telak 4-2 dan selanjutnya kejuaraan ini selalu diboyong secara bergantian antara tim-tim dari benua Biru dan Amerika latin sampai pada tahun 2006 lalu Francesco Totti cs. berhasil membawa pulang piala yang berlapis emas 18 karat tersebut ke Negara mereka.
Adakah ini hanya sebuah kebetulan atau memang sudah menjadi tradisi dalam perayaan even sepakbola terbesar di dunia ini, dan apakah mungkin tim dari benua Afrika akan menjadi pemenang di akhir episode WC selanjutnya? Mengingat Afrika sudah banyak menciptakan pemain-pemain bobot Dunia yang kini berlaga di Eropa seperti Sammy Eto’o (Kamerun/Inter Milan), Didier Drogba (Pantai Gading/Chelsea) dan lain-lainnya, terlebih lagi pelaksanaan WC tahun ini diadakan di Afrika selatan (Afrika).
Daftar Tim Pemenang World Cup:

Tahun Tuan Rumah Juara Hasil Runner-up
1930 Uruguay Uruguay 4-2 Argentina
1934 Italia Italia 2-1 Cekoslovakia
1938 Perancis Italia 4-2 Hongaria
1950 Brazil Uruguay - Brazil
1954 Swiss Jerman Barat 3-2 Hongaria
1958 Swedia Brazil 5-2 Swedia
1962 Chili Brazil 3-1 Cekoslovakia
1966 Inggris Inggris 4-2 Jerman Barat
1970 Meksiko Brazil 4-1 Italia
1974 Jerman Barat Jerman Barat 2-1 Belanda
1978 Argentina Argentina 3-1 Belanda
1982 Spanyol Italia 3-1 Jerman Barat
1986 Meksiko Argentina 3-2 Jerman Barat
1990 Italia Jerman Barat 1-0 Argentina
1994 Amerika Serikat Brazil 3-2p Italia
1998 Perancis Perancis 3-0 Brazil
2002 Korsel-Jepang Brazil 2-0 Jerman
2006 Jerman Italia 5-3p Perancis

*1942-1946 Tidak diadakan (Perang Dunia ke-2)

Jumat, 01 Januari 2010

Ini Adalah Berlian

Ini bukanlah berlian
Tapi mereka mengatakan ini berlian
Berliankah ini?
Atau ini memang berlian?
Jika ini benar berlian, mengapa bertanya?
Mengapa ragu kalau ini adalah berlian?
Tapi masih saja ada yang berkata ini bukanlah berlian
Mengapa anda yakin bahwa ini adalah berlian?
Jika aku berkata ini berlian dan kebaikan ada padaku
Maka aku akan berkata ini adalah berlian