Rabu, 22 September 2010

KETIKA BINATANG BUAS DIBANGKITKAN

“Wa idza wuhusyu husyirats”. Dan ketika binatang buas dibangkitkan. (Q.S. 81:5)

Menarik sekali untuk menelaah ayat ini karena ia menyimpan informasi dan pesan spiritual yang dahsyat. Sangat sedikit sebetulnya para ahli tafsir menyempatkan membahas ayat ini secara detail. Namun menelaah kitab-kitab tafsir isyari (tafsir-tafsir simbolik dan sufistik) ketika akan memahami bahwa pesan ayat ini sungguh akan menggetarkan jiwa si mukmin.

Kitab tafsir al-Mizan yang sering membahas ayat secara lafzhi dan zhahiri tidak banyak menguraikan kerumitan makna ayat di atas. Dikatakan rumit sebab kita diminta untuk memahami maksud ayat yang mempunyai arti bahwa binatang-binatang buas kelak akan dibangkitkan bersama manusia. Serigala, harimau, beruang, singa, buaya dan sebagainya benarkah akan dibangkitkan kembali? Untuk apa mereka dibangkitkan? Untuk dihisab layaknya manusia? Sementara mereka bukanlah makhluk yang memiliki akal dan kemampuan untuk memilih seperti manusia, yang menjadi alasan kenapa kelak manusia dihisab.

Secara lahiriah kata Thabathabai, karena ayat ini berada diantara ayat-ayat yang berbicara tentang hari kiamat (pembangkitan) maka makna lahiriyahnya adalah binatang-binatang buas kelak akan dibangkitkan bersama manusia. Namun tidak mudah memang memahaminya karena rincian bagaimana kebangkitannya dan apa-apa yang akan terjadi setelahnya semua itu tidak diungkapkan dalam al-Quran atau hadits yang dipercaya.
Namun Mulla Sadra memberikan peerspektif lain. Filosof dan pencetus gagasan al-Harakah al-Jauhariyah dalam kitab tafsirnya Tafsir al-Quran al-Karim menguraikan makna ayat ini secara simbolik. Katanya ayat ini adalah sebuah ungkapan majazi (kiasan) tentang manusia-manusia yang memiliki semua sifat dan karakter semua binatang buas yang ada di Bumi. Ketika mereka dibangkitkan kembali kelak, mereka akan dibangkitkan persis dengan sifat dan karakter tersebut. Hal ini diperkuat oleh hadits Nabi yang berbunyi , “kelak di hari Kiamat akan ada sebagian orang yang dibangkitkan oleh Allah dalam bentuk rupa yang monyet dan babi sekalipun tampak akan lebih baik darinya”.

Kata Sadra, perhatikan ayat-ayat yang mendeskripsikan tentang hari kiamat. Salah satunya adalah firman Allah yang berkata bahwa “hari itu semua rahasia-rahasiaakan diungkapkan” (yauma tubla as-sarair, 86:9). Semua yang tadinya menjadi rahasia dalam hidup manusia, termasuk karakter aslinya kelak akan diungkapkan apa adanya.
Adalah suatu hal yang lumrah diketahui bahwa dalam hidup ini manusia bertindak melakukan sesuatu karena didorong oleh berbagai macam kekuatan yang ada di dalam dirinya. Terkadang ia didorong oleh kekuatan nafsunya seperti hasrat untuk memuaskan birahi atau tuntutan biologisnya; atau amarah seperti keinginan untuk marah, memukul, membunuh; atau terdorong kuat oleh daya hayal seperti menipu, berbohong dan sejenisnya; atau dorongan rasio yang sehat seperti berfikir, tafakkur, introspeksi dan sebagainya.

Sungguh manusia-manusia yang bergerak semata-mata karena dorongan hal-hal yang tidak baik hingga melakukan kejahatan-kejahatn dan menginjak-injak hak orang lain, membunuh jiwa yang tak berdosa maka tidak ubahnya adalah binatang buas berwajah tampan (wajah manusia.

Dapat kita bayangkan makluk seperti apa itu Hindun, wanita yang melampiaskan dendamnya dengan mengunyah-ngunyah jantung sayyidina Hamzah paman Nabi di perang Uhud. Dapatkah kita bayangkan manusia yang bernama Harmalah yang melesatkan anak panah ke leher Ali al-Asghar putra Husain yang berusia enam bulan saat sang ayah memintakan setetes air bagi bayinya yang kehausan di padang KARBALA?. Dapatkah kita bayangkan manusia seperti apa itu Syimir, Sinan bin Anas, Umar bin Sa’ud, Ibnu Ziyad, Yazid dan sekutunya yang begitu sadis dan kejam di padang KARBALA terhadap Husain dan keluarga beserta 72 sahabatnya? Dapatkah kita bayangkan manusia seperti apa para serdadu/ pemerintah Israel yang membantai ribuan anak-anak dan wanita-wanita tak berdosa di Gaza?.

Di dunia ini memang wajah kebinatangan itu tak Nampak. Namun kelak semua akan Nampak seperti apa adanya: “yauma tubla as-sarair”. Jiwa-jiwa buas yang membedil orang-orang tak berdosa, memancung leher-leher suci para pejuang kebenaran kelak akan bangkit seperti yang Nabi sabdakan “rupa monyet dan babi sekalipun tampak lebih baik darinya”.

Senin, 20 September 2010

Kedap Nurani Umat Muslim

Kebiadaban Zionis Israel atas masyarakat Gaza tidak bisa lagi ditoleransi. Kita melihat betapa Gaza saat ini sendirian. Tak ada penolong bagi mereka. Pemerintah di Negara-negara Arab diam, sepertinya konflik Gaza bukan bukan masalah mereka. Baginya itu urusan politik belaka dan bukan kemanusiaan. Apakah mereka buta dan tuli?
Ulama Wahabi di Arab Saudi bahkan mengeluarkan fatwa haram menyampaikan pesan lewat demonstrasi bagi orang yang simpati terhadap Hamas dan Gaza. Sungguh picik!

Mesir yang berbatasan dengan Gaza pun tak mau membuka perbatasan Rafah. Negeri itu takut kalau hubungan harmonis yang menciptakan rasa aman dan damai dengan Israel bisa berantakan karena membantu rakyat Palestina. Tampaknya mesir lebih memilih membiarkan rakyat Gaza terbantai daripada ketenteraman pemerintahan Husni Mubarak terusik. Mata dan telinga mereka lebih senang mendengar dan menyaksikan penari perut dengan alunan musik gambus R ‘n B.

Alhasil, Israel melenggang tanpa halangan. Kebrutalan Israel -yang melebihi Holocaust- tidak ada yang berani menghalang. Seorang anggota parlemen Inggris yang juga keturunan Yahudi mengatakan kebiadaban Israel mirip dengan kebengisan tentara Nazi. Ia mengisahkan tentang kematian neneknya ketika invasi tentara Jerman ke Inggris. Saat itu kepala neneknya tertembus peluru sedang saat itu sang nenek terkulai lemas di atas pembaringan karena sakit.

Obama diam seribu bahasa. Amerika sepertinya tidak berubah dan jangan harap “si Setan Besar” akan berubah. Tapi kita cukup berbangga dengan pemerintah dan rakyat Indonesia. Ketika tragedi Gaza meledak solidaritas rakyat Indonesia Memuncak. Posko-posko bantuan kemanusiaan krisis Gaza menjamur bak cendawan di musim hujan, demo anti Zionis berhamburan dari timur Nusantara sampai ke barat. Dan bantuan segera dikirim beserta doa dan dukungan. Walau harus menempuh beberapa rintangan seperti tragedi Mavi Marmara dan lain-lain bantuan ini akhirnya bisa diterima rakyat Gaza. Mesir memperbolehkan bantuan masuk melalui Rafah.

Tentu saja bukan karena jumlah bantuan yang dikirim tapi perasaan senasib dan sependeritaanlah yang sesungguhnya membesarkan hati. Hanya rasa kemanusiaanlah yang menggerakkan hati kita menolong. Labbaika ya Gaza..

Jumat, 17 September 2010

PEACE; Utophia or Reality

PEACE; Utopia or Reality
each elements of society (individual, community, class) crave a peace. "Peace" is an absolute requirement for every human being who want a sense of security. without it, no person or group of people, neither of the smallest unit in society nor in state could meet social needs, political and economic as well. on the one hand, there are parties who take advantage of an absence of peaceful situation, because they are very concerned about the "availability" of protracted conflict, and the majority form of economic or political interests. on the other hand, the concept of peace also appeared contextually when it is placed in certain situations. intended by a situation of peace in this paper is not just in a negative sense, relatively without turbulence, or without conflict. but more than that, as one purpose of handling conflict. and by then it will raise several questions: (1) why does a situation of peace is necessarily?, (2) whether the peace is a precondition for a sense of security, which is a fundamental right citizen has been fullfilled?; (3) how to achieve a lasting peaceful situation, what are the supporting factors and inhibitors?; (4) how the responsibility of the state, as a stakeholders within a country?
Paul Wehr in “The Development of Conflict knowledge” says; in the period throughout the 19th-20th century, human awareness of how a conflict arise -in addition of efforts to handle a conflict with constructive ways- has been increasing at the level of abstract and formal, education in schools, seminars and training forums. In Indonesia, study of conflict research, identification, formulate proposals or recommendations was held by universities, local and international institutions of research, non-governmental organizations and also from government itself.
"the action" that posted above by Wehr described not merely as human reflection of curiosity to the problems of conflict and how to achieve peace. Furthermore, This case illustrates the process of finding a solution over the increasing scale and cost of human conflict. situation of chaos of political, economy, social, cultural, which took place in Indonesia since 1997, even those that already had the potential latent in much earlier periods is the stage of clash of interests among individuals and groups within countries. cases of violent conflict which claimed the loss of human life, property, and the psychological effects such as trauma has proven that. Thus, the statement of Wehr about "the processing of a solution finding" above is appropriate when it is concerned with the growing awareness of the efforts to resolve violent conflict in Indonesia that is conducted by actors of non-governmental organizations. moreover, the efforts to handle conflict issues actually depends on the parties that get involved a conflict, the victims of the conflict itself, out of the circles which have often given the attribute of "civil society" are a non-governmental organizations and students.
an important question arising in connection with the "involvement of the conflicting parties in the conflict resolution scheme." Here an assumption; if viewed from the side of the trigger or the perpetrators of conflict, conflict resolution through peace agreements, facilitated by dialogue, will not mean much when the actors involved in conflict situations is not included to build a sustainable peace (sustainable peace building). However, the shceme will remain a new dilemma. How do we create a peace agenda through an agreement when the government itself does not do justice to the parties that are considered guilty? While negotiations require an equality for both sides who want to negotiate. in the context of political transition, it is not as easy as we thought, considering that the civil society itself is divided, while democratization is still ongoing.
In Poso district, as an example is shown by an analysis of the roots of conflict and the prospects of peace in Poso. peace zone created by community groups in the conflict and facilitated by a group of advocates of peace, with the intention of restoring human dignity in the region of conflict, on the one hand it is not followed by a worthwhile effort by the state (local and central government and security forces and a handful of local political elites), and on the other hand, a concept initiated by the non-governmental also did not continued with greater opportunities for cooperation. giving rise to the impression that the effort is dominated by the conflict reducer “Malino Agreement II” which was only temporary and do not take root upon society’s bossom. Promotion of Malino Agreement II as the only starting point for peace in Poso appears over the paradigm used by local communities, and identification of the root of conflict are narrowed by political factors (an election of Regents); ideological factors (the existence of jihadist groups/Mujahidin Poso and the opposition); and social factors (a dense population).

What Might Be Done?
There is an important point when talking about "peace", that is concerning the perception and interpretation of who is dominant in it. Referring to the problematic of concept of reconciliation in the case of Tanjung Priok Tragedy, then the same thing may be brought in the concept of peace to end the violent conflict case itself. Is not the military also put up banners "Peace Is Beautiful" at strategic locations at the corners of the city and in rural outposts? A peace agreement, in the conflict that occurred at any level, whether intra-state (internal conflict) and inter-state (interstate conflict), it should contain elements of "peace building", including law enforcement efforts and the realization of mutual-trust (confidence building measures) among the parties in conflict. However, when the legal instrument is no longer trusted by the public, during security is one of the citizens right, then how could it be to be achieved? State does not work properly in providing safe situation. Where is the function of stakeholders? While the violence finally reproduced by groups of civil society, is there no future for the word "peace"?
In this case, it takes effort to retrace the steps that have been made by various parties to achieve peace, especially in the context of fulfilling the rights of citizens in safe feeling, and explores how to create a mechanism of conflict handling, and to push peace toward in long-term in Indonesia. Do we have the alternative peace? which meant not in the sense of "negative peace" in the form of mere cessation of violence, but "positive peace" which accompanied the direct participation of the community to make it happen? Conflict management approach is most appropriate when looking at the trend of conflict, especially if you see the impact by it?
Long-term view of the conflict at least dependent on two variables: the balance of power, and awareness of the existence of interest groups and their needs to the conflict, and approaches of handling a conflict as has been mentioned earlier. The process of conflict resolution and efforts to achieve peace can be understood in that context. In this case, the role of peace builders in particular are expected to emerge from the civil society, or individuals who understand the issues, and able to analyze any occurred conflict clearly, by determine every factor that causes the conflict. We can put ourselves as the party providing analysis / consultation, direct advocacy, or involve ourselves as a "third party" in the mediation scheme and/or negotiations, provided that the conditions of a balanced relationship between the conflicting parties.
In conclusion the main purpose and the peace building process is to restructure the damaged social relations, and, furthermore, produces a fair mechanism for conflict resolution and peace, taking into account the political aspects, economic, social and cultural includes the locus of the conflict. From this point of view, forward and unlock the potential of latent conflict is not a "provocation" or "add" the conflict, but rather is part of a broader peace process.

Jumat, 10 September 2010

Lebaran adalah sebuah TRADISI

Lebaran adalah sebuah TRADISI yang dilakukan sebagian umat muslim dalam merayakan hari kemenangan/besar Islam seperti Ied Fitri/Adha, tradisi yang sudah diwariskan turun temurun oleh orang-orang sebelum kita, tradisi yang jika tanpanya 80% ummat yang merayakannya tidak merasakan apa-apa dari Ibadah puasa yang dijalankan sebulan penuh sebelumnya, suatu tradisi yang pada sebagian kecil ummat dianggap sebagai suatu bentuk pemborosan namun tidak pada sebagian besar lain. adalah hal yang sangat masuk akal jika kelompok kecil ini mengatakan demikian, mengingat kebiasaan atau tradisi ini erat hubungannya dengan mengeluarkan uang yang lumayan untuk membuat perayaan ini terasa meriah. selain itu kebiasaan ini akan menimbulkan kesenjangan sosial kian nampak pada ummat yang merayakannya (inequality between poor and rich), sadar atau tidak, inilah realitanya.

sedangkan mereka yang mempunyai kelebihan materi menganggap inilah bentuk perayaan kami, "iedain" atau 2 hari ied adalah tamu agung tahunan yang tentunya kita menemuinya hanya sekali dalam setahun, maka tidak salah jika dalam perayaannya kami mengeluarkan uang yang tidak sedikit.

Lantas apa yang membedakan bentuk perayaan tersebut (tradisi lebaran) dengan Wedding Anniversary atau Birthday Party? bukankah ia juga dilakukan setahun sekali? bukankah dia juga tamu agung? haruskah dalam merayakan suatu kemenangan atau annual event harus dengan pesta pora? atau dengan cara yang berlebih-lebihan?.

saya sependapat dengan seorang Norman Rockwell yang mengatakan "I'm not going to be caught around here for any fool celebration. To hell with birthdays!"

ada sebuah asa yang ingin kita raih dari hari Besar ini, tapi tidak dengan cara yang berlebihan. ".... wa laa tusrifuu!! inna Allaha laa yuhibbu al-musrifiin".

Jumat, 03 September 2010

TANDA-TANDA MALAM LAILATUL QADR

Diantara kita mungkin pernah mendengar tanda-tanda malam lailatul qadar yang telah tersebar di masyarakat luas. Sebagian kaum muslimin awam memiliki beragam khurofat dan keyakinan bathil seputar tanda-tanda lailatul qadar, diantaranya: pohon sujud, bangunan-bangunan tidur, air tawar berubah asin, anjing-anjing tidak menggonggong, dan beberapa tanda yang jelas bathil dan rusak. Maka dalam masalah ini keyakinan tersebut tidak boleh diyakini kecuali berdasarkan atas dalil, sedangkan tanda-tanda di atas sudah jelas kebathilannya karena tidak adanya dalil baik dari al-Quran ataupun hadist yang mendukungnya. Lalu bagaimanakah tanda-tanda yang benar berkenaan dengan malam yang mulia ini ?
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengabarkan kita di beberapa sabda beliau tentang tanda-tandanya, yaitu:

1. Udara dan suasana pagi yang tenang
Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist hasan)

2. Cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya
Dari Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR Muslim)

3. Terkadang terbawa dalam mimpi
Seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi radliyallahu’anhum

4. Bulan nampak separuh bulatan
Abu Hurairoh radliyallahu’anhu pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata,
“Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.” (HR. Muslim)

5. Malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)
Sebagaimana sebuah hadits, dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:
“Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan)

6. Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lezatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak seperti malam-malam lainnya.

Wallahua’lam