Kebiadaban Zionis Israel atas masyarakat Gaza tidak bisa lagi ditoleransi. Kita melihat betapa Gaza saat ini sendirian. Tak ada penolong bagi mereka. Pemerintah di Negara-negara Arab diam, sepertinya konflik Gaza bukan bukan masalah mereka. Baginya itu urusan politik belaka dan bukan kemanusiaan. Apakah mereka buta dan tuli?
Ulama Wahabi di Arab Saudi bahkan mengeluarkan fatwa haram menyampaikan pesan lewat demonstrasi bagi orang yang simpati terhadap Hamas dan Gaza. Sungguh picik!
Mesir yang berbatasan dengan Gaza pun tak mau membuka perbatasan Rafah. Negeri itu takut kalau hubungan harmonis yang menciptakan rasa aman dan damai dengan Israel bisa berantakan karena membantu rakyat Palestina. Tampaknya mesir lebih memilih membiarkan rakyat Gaza terbantai daripada ketenteraman pemerintahan Husni Mubarak terusik. Mata dan telinga mereka lebih senang mendengar dan menyaksikan penari perut dengan alunan musik gambus R ‘n B.
Alhasil, Israel melenggang tanpa halangan. Kebrutalan Israel -yang melebihi Holocaust- tidak ada yang berani menghalang. Seorang anggota parlemen Inggris yang juga keturunan Yahudi mengatakan kebiadaban Israel mirip dengan kebengisan tentara Nazi. Ia mengisahkan tentang kematian neneknya ketika invasi tentara Jerman ke Inggris. Saat itu kepala neneknya tertembus peluru sedang saat itu sang nenek terkulai lemas di atas pembaringan karena sakit.
Obama diam seribu bahasa. Amerika sepertinya tidak berubah dan jangan harap “si Setan Besar” akan berubah. Tapi kita cukup berbangga dengan pemerintah dan rakyat Indonesia. Ketika tragedi Gaza meledak solidaritas rakyat Indonesia Memuncak. Posko-posko bantuan kemanusiaan krisis Gaza menjamur bak cendawan di musim hujan, demo anti Zionis berhamburan dari timur Nusantara sampai ke barat. Dan bantuan segera dikirim beserta doa dan dukungan. Walau harus menempuh beberapa rintangan seperti tragedi Mavi Marmara dan lain-lain bantuan ini akhirnya bisa diterima rakyat Gaza. Mesir memperbolehkan bantuan masuk melalui Rafah.
Tentu saja bukan karena jumlah bantuan yang dikirim tapi perasaan senasib dan sependeritaanlah yang sesungguhnya membesarkan hati. Hanya rasa kemanusiaanlah yang menggerakkan hati kita menolong. Labbaika ya Gaza..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar